Selamat Datang di Blog Saya - Semoga Artikel yang Saya Postingkan Bermanfaat bagi semua

Senin, 01 April 2013

Bahaya Mengintip dari Makanan Kaleng

Study Kasus Oleh  Agung Setiawan
Sejalan dengan berubahnya gaya hidup maka juga memengaruhi pola makan pada banyak orang. Bahaya keracunan makananpun mulai mengintip di mana-mana. Baik dari makanan di warung kaki lima sampai restoran fast food, bahkan, mungkin juga dari dapur kita sendiri. Itu berarti kita harus tahu apa saja yang terkandung dalam makanan yang akan kita makan setiap harinya
Dalam kesempatan ini, saya akan memaparkan hal-hal yang harus diketahui tentang cara memilih dan mengolah makanan kaleng sehingga tidak terjadi keracuan makanan. Dan saya berharap agar tulisan ini dapat bermanfaat dan membantu sehingga hidup anda menjadi hidup yang lebih sehat. Sekarang ini seiring dengan meningkatnya tingkat kesibukan , masyarakat kini cenderung kurang memperhatikan makanan yang mereka makan. Baik itu dari segi kebersihan, kesehatan, atau kandungan gizi yang terkandung dalam makanan, kecenderungan orang hanya memikirkan dari segi ekonomis dan kepraktisannya saja. Sehingga keracunan makanan sangat mungkin terjadi karena makanan kaleng yang dikonsumsi.
Dengan adanya permasalahan tersebut, saya ingin mencoba mengkaji masalah ini lebih mendalam yaitu tentang cara memilih dan cara konsumsi makanan kaleng dengan aman sehingga tidak terjadi keracunan makanan yang sangat merugikan konsumen. Sampai saat ini banyak kasus keracunan makanan menimpa konsumen, karena mereka tidak tahu mengenai adanya zat-zat berbahaya yang terkandung dalam makanan yang mereka konsumsi setiap harinya. Maka pengetahuan mengenai cara pencegahan dan penanggulangan harus diketahui agar mereka tidak dibodohi terus - menerus.
Banyak pula ditemui para produsen makanan yang seringkali tidak memperhatikan kesehatan makanan produksinya dan hanya beorientasi pada laba. Hal ini jelas sangat disayangkan karena konsumen Indonesia belum terlalu kritis dan pengawasan pangan yang kurang, sehingga membuat pihak konsumen sangat dirugikan. Hal ini terbukti dengan adanya keracunan pangan dari makanan kemasan yang belakangan ini terus meningkat.
Data dari Badan POM tentang kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan dari tahun 2001-2006 menunjukkan peningkatan baik dari jumlah kejadian maupun jumlah korban yang sakit dan meninggal. Walaupun demikian, korban meninggal ditengarai mungkin hanya 1 % saja sesuai dengan perkiraan WHO.
Dan baru- baru ini banyak kasus keracunan pangan di Indonesia yang bersumber dari makanan dalam kemasan atau makanan kaleng. Hal ini diperparah dengan banyaknya penyimpangan terhadap peraturan pelabelan dan yang paling banyak ditemui adalah :
1.    Penggunaan label tidak berbahasa Indonesia dan tidak menggunakan huruf latin, terutama produk impor
2.    Label yang ditempel tidak menyatu dengan kemasan
3.    Tidak mencantumkan keterangan komposisi dan berat bersih
4.    Tidak ada kode barang MD, ML atau P-IRT dan acuan kecukupan gizi yang tidak konsisten dan tidak mencantumkan waktu kadaluarsa
5.    Tidak dicantumkannya alamat produsen atau importir bagi produknya
Makanan kaleng yang sudah mulai mengalami kerusakan dapat dilihat dari kondisi kaleng yang sudah mengalami penggembungan. Namun, ada juga yang tidak terdekteksi dari luar, karena kedua ujung kaleng datar. Kerusakan produk makanan kaleng yang perlu diwaspadai, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Flat Sour, permukaan kaleng tetap datar tapi produknya sudah bau asam yang menusuk. Ini disebabkan aktivitas spora bakteri tahan panas yang tidak terhancurkan selama proses sterilisasi.
Flipper, permukaan kaleng kelihatan datar, namun bila salah satu ujung kaleng ditekan, ujung lainnya akan cembung.  
Springer, salah satu ujung kaleng sudah cembung secara permanen, sedang ujung yang lain sudah cembung. Jika ditekan akan cembung ke arah berlawanan. 
Soft Swell, kedua ujung kaleng sudah cembung, namun belum begitu keras sehingga masih bisa ditekan sedikit ke dalam.
Hard Swell, kedua ujung permukaan kaleng cembung dan begitu keras sehingga tidak bisa ditekan ke dalam oleh ibu jari.
Kiat sehat mengkonsumsi makanan kaleng, paling tidak harus mempertimbangkan lima hal berikut:
- Jangan mengkonsumsi makanan kaleng yang dicurigai sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan, seperti kaleng kembung, berkarat, penyok, dan bocor.
- Makanan dalam kaleng sebaiknya dipanaskan sampai mendidih selama 10 menit sampai 15 menit sebelum dikonsumsi.
- Bacalah label secara seksama dan perhatikanlah tanggal kadaluwarsa. Demi keamanan, pilihlah produk yang belum melampaui tanggal kadaluwarsa.
- Makanan kaleng yang sudah dibuka harus digunakan secepatnya karena keawetannya sudah tak sama dengan produk awalnya.
Bila dicurigai adanya kebusukan, makanan kaleng tersebut harus dibuang.

Kebutuhan Psikologi Manusia

Kebutuhan dasar manusia keberadaanya dalam lingkungan hidup juga menimbulkan masalah sikap kejiwaannya. Untuk itu di kenal psikologi lingkungan (environmental psychology), belakangan muncul ekopsikologi. Sikap dan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh perilaku ruang (spatial behaviour). Hal ini mungkin sekali akan menimbulkan ketegangan lingkungan (evironmental stress), misalnya keadaan ruangan yang akan memicu kejiwaan seseorang, sifat cahaya, suasana dan suhu. Lebih lanjut juga pengaruh luas/sempitnya ruangan, yang akan berpengaruh terhadap dimensi teritorialitas dan privacy seseorang. 
       Environmental stress akan berpengaruh pada diri seseorang, sesuai dengan lamanya keadaan/gangguan yang dapat diterima olehnya untuk menanggapinya. Jadi pada dasarnya pengaruh lingkungan terhadap kejiwaan seseorang dapat bersifat internal, eksternal, maupun transendental.

A. Faktor internal        
Faktor internal yang mempengaruhi seseorang dapat berbeda-beda. Dalam kehadiran seseorang dalam lingkungan hal itu sangat tergantung pada:
(1)   Jati diri yang merupakan refleksi dari egoisme seseorang, yakni dari kepercayaan diri, kemandirian maupun keyakinan akan kompetensi maupun perasaannya dalam kehidupan.
(2)   Empati yakni kemampuan untuk mengenal dan memahami perasaan orang lain dalam sistem sosial dimana dia berada. Dengan empati seseorang akan berusaha untuk “kompromi” dalam menyesuaikan diri dengan sistem sosial dimana dia berada.
(3)   Altruisme yakni sikap dan perilaku untuk berusaha menolong orang lain, bahkan kadang-kadang dengan mengesampingkan keperluan diri sendiri. Jadi sikap yang terpuji adalah gabungan antara egoisme, empati dan altruisme, karena dengan sikap ini sebenarnya seseorang juga harus memantapkan jati dirinya sendiri terlebih dahulu. Kepentingan orang lain yang harus di tolong pun harus berdasarkan menolongnya agar dia mampu mandiri untuk dapat mengikis ketergantungan pada orang lain. Dalam hubungan ini istilah jangan diberi ikan, tapi kail walaupun sepintas lalu baik, tetapi perlu ditelaah lebih jauh dari kepedulian lingkungan kita. Mengail (mancing ikan) sebenarnya harus dilihat dari urutan dosa berikut:
·         Dosa karena menyakiti cacing yang dijadikan umpan,
·         Dosa karena menipu ikan, dan
·       Dosa karena menyakiti ikan yan terpancing, yang mungkin mulutnya terpaksa sobek.
Jadi perlu diganti dengan ungkapan jangan diberi ikan, tetapi ajarkan cara memelihara ikan.

B.  Faktor eksternal 
          Dalam kehidupan bermasyarakat, kita juga sangat mendapatkan pengaruh faktor eksternal, yakni faktor perilaku kepedulian sesama dan faktor kehormatan.
(1)   Kepedulian atau caring for, faktor diperhitungkan keberadaan kita; selengkapnya faktor eksternal yang kita harapkan adalah caring, loving and belonging within the society where one belongs.
(2)   Kehormatan atau sikap esteem,mulai dari self-esteem, kehormatan diri antarsesama (lihat Maslow 1970).

             Dalam kehidupan yang berlangsung secara fisik dan kimiawi mungkin juga terjadi keteledoran perilaku yang tanpa sengaja maupun di sengaja dapat membahayakan kehidupan. Misalnya dalam berbagi kegiatan di bidang industri, perdagangan, pertanian,transportasi dan sebagainya dapat terjadi faktor eksternal seperti penggunaan pupuk dan pestisida, termasuk bahan yang berbahaya (peledak, narkoba, dan lain-lain), pembuangan limbah industri dan sebagainya.
             Untuk mempertajam kewaspadaan dan kerja sama antarsektor dalam penggunaan bahan beracun dan berbahaya, telah disusun Profil Nasional tentang pembinaan infrastruktur pengolaan bahan kimia indonesia (Badan POM 2005).

C.  Faktor transendental
            Tuhan menciptakan manusia dengan segenap perangkat dan pengada agar selalu berupaya meningkatkan kesejahteran hidupnya. Jadi hari esok harus lebih baik dari hari ini, sehingga rugilah kita kalau keadaan esok hari sama dengan hari ini. Oleh karena itu kita dikatakan Emil Salim (1986) dalam melaksanakan pembangunan dengan meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah, sebenarnyalah manusia telah melaksanakan ibadah sebagaimana diperintahkan oleh pencipta-Nya. Jadi pembangunan bersumber pada pengabdian serta pendekan diri pada Tuhan Yang Mahaesa.
Bumi sebagai tempat tinggal dan tempat hidup manusia dan makhluk Allah lainnya sudah dijadikan Allah dengan penuh rahmat Nya. Gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, lautan, daratan dan lain-lain semua itu diciptakan Allah untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh manusia, bukan sebaliknya dirusak dan dibinasakan
Hanya saja ada sebagian kaum yang berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka tidak hanya merusak sesuatu yang berupa materi atau benda saja, melainkan juga berupa sikap, perbuatan tercela atau maksiat serta perbuatan jahiliyah lainnya. Akan tetapi, untuk menutupi keburukan tersebut sering kali merka menganggap diri mereka sebagai kaum yang melakukan perbaikan di muka bumi, padahal justru merekalah yang berbuat kerusakan di muka bumi.

Kebutuhan Fisik Manusia

A. Perlindungan  
          Manusia memerlukan perlindungan fisik, berupa perumahan yang aman untuk dihuni, bebas dari keadaan atau tatanan Alam yang dapat menimbulkan resiko seperti gempa bumi,aman dari letusan gunung api, longsor, banjir, badai, dan sebagainya.jadi singkatnya berada di satu ruang yang aman. Dalam tatanan masyarakat saat ini yang dimaksud dengan perlindungan juga termasuk gangguan dari kemungkinan ulah manusia seperti kebakaran, kemungkinan kebanjiran dan kejahatan.
           Perbedaan antara kecukupan dalam kehidupan juga mengakibatkan perbedaan mutu rumah sebagai perlindungan keluarga. Pada umumnya rumah di desa keadaanya sederhana tetapi cukup untuk keperluan perlindungan diri beserta keluarga. Sedangkan rumah di kota menunjukkan kesenjangan cukup bermakna antara rumah kampung yang miskin di sela-sela rumah mewah dan bertingkat

B. Ketentraman
          Ketenteraman sosial adalah perlindungan dari kericuhan yang ditimbulkan oleh manusia seperti pencurian, perampokan, teror dan huru-hara lainnya. Perlindungan terhadap gangguan manusia diharapkan diperoleh dari ketenteraman yang dijamin dengan hukum dan peraturan perundangan-undangan bikinan manusia. Akhirnya ketenteraman masyarakat ini juga harus mengacu pada hukum kosmos dari tatanan Alam.
          Ketenteraman lahir ini sangat mempengaruhi ketenteraman batin. Pada umumnya untuk hidup di kota dituntut ketahanan diri yang kuat untuk menghadapi tantangan ketenteraman lahir dan batin.
          Jakarta pada tahun 2001 dilaporkan adanya 23.869 kasus kejahatan, termasuk pencurian, perampokan, penculikan, pembunuhan, penganiayaan, perkosaan, kenkalan remaja, perjudian, kejahatan narkoba dan seterusnya; dari angka ini terlihat bahwa setiap hari ada ± 66 kejahatan yang menimpa penduduk jakarta dengan resiko 0.2%; sehingga muncul anggapan: tidak jadi masalah, asal jangan menimpa diri saya (Nimby, not in my back yard).
Leobardus Ari Nugroho